@Cahyo_Chio
27

Januari.

Kebahagianku akan lengkap di bulan ini.

pun kesedihan yang entah melengkapi atau justru jadi bumbu lain dari paket bahagiaku.

ibu, alasanku berbahagia.

wanita yang menemaniku dua puluh dua tahun aku hidup dimuka bumi.

menjadi penopang tangguh tiap ragu yang lahir dalam kepalaku.

manusia yang akan selalu percaya bahwa aku bisa bahkan ketika aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri.

kado apapun kursa takkan pernah cukup ungkapkan terimakasihku.

tapi ada satu buku, yang nanti akan ku berikan.

sebagai tanda bahwa aku mencintai ibu dengan segenap nafas dalam dada.

sebagai penghargaan atas hobby baca yang diturunkannya padaku.

Banda Neira (Catatan Kaki Dari Sebuah Perjalanan)

Masih pagi. Gunung Api sudah nampak. Rinduku serta merta tumpah saat KM. Ciremai perlahan - lahan merapat ke pelabuhan Banda. setelah delapan tahun berlalu, aku pulang (lagi). akhirnya.

Tidak perlu menunggu lama untuk berlari menuju rumah. Jaraknya hanya sepuluh menit jika dilakukan dengan berjalan kaki. Namun ada lara yang masih tertinggal. Sebelas tahun lalu, adik perempuan keduaku meninggal disini sebelum sempat merasakan busuknya dunia.

Jalan - jalannya masih sama. Beberapa sudut masih belum berubah. Memanggil untuk sekedar di singgahi. Mengaburkan rindu yang lama kedinginan. Ah, Banda…

Aku bertemu lagi dengan beberapa teman sepermainanku ketika dulu aku masih disini. Bercanda, bermain lagi seperti dulu hingga matahari kembali ke peraduannya.

Beberapa pagi juga kulewati dengan caraku sendiri. Jalan kaki. Pantai kasteng, kolam ikan, pelabuhan, pasar ikan, semuanya membekas terlalu dalam. Sekedar mengingatkan, aku pernah tumbuh disini. Darahku juga, sebagiannya berasal dari sini. Dari Ibu yang memang asli Banda.

Jika ada sesuatu yang sangat aku rindukan selain suasananya, pastilah itu buah pala dan bakasang. Ke Banda saja, lalu coba minta di buatkan pala dan bakasang dan coba dimakan dengan nasi putih panas. Itu surga kawan!

Tapi ada sedikit kekecewaan pula. Banyak nilai adat yang sudah mulai dilupakan. Sudah banyak kendaraan roda dua memenuhi jalan - jalan Banda yang sempit, yang menurutku tidak seharusnya begitu. Banda bagiku adalah surganya jalan kaki. Dan takkan pernah berubah sampai kapanpun, bagiku.

Perkembangan lain yang terlihat mencolok adalah jangkauan internet sudah masuk ke sana. masih belum sebagus di kota - kota besar lainnya, memang. namun mungkin bisa lebih berguna untuk kemajuan Banda sendiri.

Apapun yang terjadi Dibanda, biarlah Banda tetap seperti yang seharusnya. tetap begitu dan jangan sampai berubah terlalu jauh. Karena lebih dari apapun, Banda adalah rumah dari setiap rindu untuk pulang dan melebur bersama dunia, bagiku.

sudah pagi

secangkir kopi mencari hangatnya sendiri

aku menghangatkan rinduku sendiri

detik - detik gugur

menit membeku ketika rindu menggigil kedinginan

aku diam,

mati kesepian

mataku sudah sayu

kantuk mungkin sudah lelah untuk terjaga

aku belum mau tidur

biar saja aku bermimpi dengan mata terang

S A T U

Rindu, bagiku menjelma malam. Menyelinap bersama sepi dan bersembunyi dalam gelap. Serupa hantu, selalu menakut – nakuti.

Lalu aku berdiri, membiarkan tubuhku terbawa langkahku yang entah akan kemana. Pandanganku kosong, memberikan ruang untuk bayanganmu. Seperti itu, selalu. Setiap malam saat rindu kembali kepadaku sebagai rentenir, menagih cinta yang belum sempat bertemu denganmu.

Kau tahu? Disini, dalam setiap sepi yang memelukku, dalam setiap doaku, sengaja kuselipkan namamu di dalamnya. Jika kau ingin tahu alasannya, maka akan ku jawab. Alasannya adalah, aku ingin tuhan tidak sekedar mendengar doa – doaku untukmu, aku ingin tuhan menggenggam doa – doa itu dan membawanya bersama rindu yang mulai menumpuk di sudut kamarku kepadamu.

Oh ya, kemarin saat aku sedang diam memikirkanmu, bayanganmu datang. Ia pucat, ketakutan. Tangannya dingin, tubuhnya gemetar. Aku bingung, lalu aku tanyakan kepadanya apa yang ia alami. Lalu ia bercerita padaku tenyang ketakutanmu yang ternyata merupakan ketakutanku juga. Lalu, aku mengatakan kepadanya, saat pertama cinta datang dan menyampaikan isi hatimu padaku, ia datang bersama kekasihnya, Perpisahan. Ia bercerita tentang perpisahan yang telah banyak menghianatinya. Namun ia tetap bertahan dan tetap menjelma indah. Aku lalu diam, menggenggam cinta yang datang itu seerat yang kubisa, dan menyimpan perpisahan jauh di depan mata kita.

Lalu, tadi pagi, sesaat setelah shubuh, ketakutan datang padaku. Ia memperingatkan aku tentang bagaimana sakitnya perpisahan. Kau tahu, saat itu aku benar – benar takut. Aku takut kan pergi dengan sebagian hatiku yang beberapa waktu lalu ku titipkan padamu. Aku takut karna aku tau bagaimana rasanya kau tinggal sendiri bersama sepi dan sunyi.

Namun ternyata, selalu dengan caranya, cinta datang padaku dan kali ini bersama kamu. Menepis ragu dan ketakutanku. Dan sebelum ia sempat meninggalkanku, ia telah ku ajak untuk tinggal dan menemaniku berlayar, pagi ini.

Hujan

jejak - jejak basah. aspal hitam. kuning lampu di jalan - jalan kota Jogja. kita hanya diam. menyesap hangat dari kebersamaan yang cukup. rindu, selalu punya cara untuk kembali.

sayang, jarak lagi yang akan jadi penengah antara kita. jogja - jakarta mungkin tak sejauh jika kita masih saling mendoakan. hanya saja, rindu kadang bisa berangka tak terhitung dibanding jarak. kita bahkan masih dalam satu zona waktu, tapi tetap saja, rindu selalu sulit untuk dirayu agar mau mengalah pada jarak.

gerimis. bau tanah basah dan kamu yang meringkuk di jok belakang motor, memeluk udara dingin. kita riuh dalam diam, dingin hanya berupa rindu. kamu sudah lebih dari segalaku. sudah lebih dari keseluruhanku.

Pada beberapa sisi, orang - orang yang tidak peduli dengan orang lain, kadang lebih tidak peduli akan dirinya sendiri.